8/01/2010

Balim, Perempuan dan Noken

Mama Weri, Perempuan suku Dani dari kampung Welaik merajut noken bahan benang nilon yang di belinya di pasar kota Wamena.
Noken adalah tas tradisional wanita lembah Baliem yang dirajut dari pilinan kulit kayu. Seiring berkembangnya jaman, bahan dasar untuk membuat noken berubah menggunakan benang nilon pabrikan. Perubahan ini tidak mempengaruhi nilai dan fungsi sosial dari noken, Sebagai alat angkut dan mas kawin. Hampir semua perempuan baliem memiliki kemampuan merajut noken, membuatnya merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka.



 








Jalan sore dan noken barunya..., ciri khas warna-warni eksotis mencolok mewarnai noken lembah Baliem. Selesai dirajut noken akan dipakai sebagai aksesoris dan penghangat tubuh di tengah dinginnya hawa di kawasan pegunungan jayawijaya. karakter modis perempuan Baliem.


Berteduh di pinggir jalan pasar tradisional di sudut kota Wamena. Para perempuan membawa hasil kebun ke pasar dengan Nokennya. Perempuan-perempuan ini datang dari berbagai kampung yang terletak di pegunungan Jayawijaya
                                                                                                    
Kaum perempuan mengangkut dan menjual hasil-hasil kebun. Ipere ; wortel ; tebu ; petatas dan anak bayi semua diangkut menggunakan noken, mengandalkan kekuatan otot leher. Sementara kaum laki-laki jarang sekali dijumpai beraktifitas dengan beban demikian. Pembagian peran yang tidak merata ini  membebankan kaum perempuan di lembah Baliem bekerja lebih keras daripada laki-laki. (Foto & Teks : F. Chandra)

Bukit Kerucut Kars Lembah Balim

Selatan Lembah Baliem, terhampar kawasan sunyi dengan gugusan bukit-bukit berbentuk kerucut-kerucut yang relatif simetris (conical hill).
Bentang alam ini terbentuk dari proses pelarutan jutaan tahun oleh air hujan terhadap batugamping, kita kenal dengan istilah kawasan Kars.

Batugamping ini berasal dari endapan kehidupan organik (coral) pada Zona Neritik, kedalaman 0 - 200 m dibawah laut, dimana cahaya matahari masih mampu menembusnya. Tersingkap di pegunungan tengah Jayawijaya hingga ketinggian lebih dari 1800 mdpl (meter diatas permukaan laut) akibat proses dinamika tektonika dalam sekala waktu lebih dari 25 juta tahun yang lalu. (foto & teks : F. Chandra)